HeadlinesBriefing favicon HeadlinesBriefing.com

Pelabuhan Jebel Ali Terancam Perang, Selat Hormuz Terganggu

Financial Times Companies •
×

Lebih dari empat dekade, Jebel Ali menjadi mesin transformasi Dubai dari pusat perdagangan regional menjadi salah satu hub komersial besar dunia. Kini perang AS-Israel dengan Iran mengekspos kerentanannya, karena gangguan pelayaran parah di Selat Hormuz menghentikan operasi di situs strategis kritis ini. Eirik Hooper, asosien senior di konsultan maritim Drewry dan mantan eksekutif DP World, menyebut situasi ini "risiko eksistensial" bagi emirate.

Anak buah Sheikh Rashid bin Saeed Al Maktoum, penguasa Dubai pada 1970-an dan 1980-an, Jebel Ali awalnya dikritik terlalu ambisius. Langkah putus datang pada 1985 dengan pembentukan Zona Bebas Jebel Ali, kini rumah 12.000 perusahaan. Pelabuhan dan zona bebas perdagangan saja menyumbang lebih dari seperlima PDB Dubai, dan Jebel Ali menghasilkan 30 persen pendapatan DP World tahun lalu.

Empat terminal kontainer pelabuhan pernah menangani sekitar 40.000 TEU per hari, menjadikannya hub pelayaran terbesar Timur Tengah. Tapi volume anjur lebih dari 90 persen di minggu-minggu awal konflik. Transit lewat Hormuz rata-rata hanya 17 kapal per hari akhir Agustus, dibanding sekitar 135 sebelum perang.