Penelitian baru dari Virginia Tech menunjukkan bahwa pemrosesan makanan sendiri — tanpa mempertimbangkan nilai gizi — secara signifikan memengaruhi metabolisme dan aktivitas otak. Peneliti menemukan bahwa makanan ultraprosesor merangsang pelepasan insulin yang lebih tinggi, pengeluaran energi yang lebih besar, dan pengurangan pembakaran karbohidrat dibandingkan makanan dengan nilai gizi yang sama tetapi kurang diproses. Scan MRI otak menunjukkan aktivitas yang berbeda di wilayah yang terkait dengan imbalan, yang mengindikasikan bahwa pemrosesan dapat memicu makan berlebihan. Hasilnya, yang dipublikasikan di Nature Metabolism, menantang asumsi bahwa makanan dengan nilai gizi yang sama memiliki efek fisiologis yang sama. Makanan ultraprosesor kini menyumbang lebih dari 50% dari total kalori harian rata-rata Amerika, dan kemudahan serta rasa enak membuatnya mudah dikonsumsi berlebihan. Penelitian mengontrol kalori, karbohidrat, lemak, protein, air, dan garam, tetapi tetap menemukan perbedaan metabolik dan sarafik.
Penelitian melibatkan 57 orang dewasa sehat, 32 di antaranya menyelesaikan sesi metabolik dan pemrosesan otak. Peserta mengonsumsi makan 300 kalori yang sama dalam sesi terpisah, dengan pengambilan darah dan scan fMRI untuk melacak respons. Makanan ultraprosesor mencakup daging turkey olahan, keripik sayuran, dan nasi instan; makanan minimal diproses mencakup pisang, keju, dan telur. Meskipun label nutrisi hampir identik, tubuh dan otak merespons berbeda, menandakan bahwa pemrosesan adalah faktor kunci risiko kesehatan jangka panjang seperti obesitas dan diabetes tipe 2.
Entitas utama: Orang: Alex Di Feliceantonio, Zach Hutelin | Lokasi: Virginia Tech, Fralin Biomedical Research Institute, VTC
Sumber: Hacker News · Diringkas oleh HeadlinesBriefing