Reflect Orbital berencana meluncurkan satelit uji Eärendil-1 dengan cermin 18x18 meter tahun ini, mengincar 50,000 satelit lebih besar 54x54 meter untuk memantulkan cahaya matahari sesuai permintaan untuk pengisian surya, respons darurat, dan penggunaan militer. FCC menyetujui peluncakan pada Juli, tetapi para astronom menekankan dampak serius pada langit malam.
Miroslav Kocifaj dari Akademi Ilmu Slovakiat menerbitkan model dalam Astrophysical Journal Letters yang menunjukkan bahwa satu satelit akan tampak 40 kali lebih terang dari bulan purnama dalam radius lima kilometer targetnya, dan seterang dari bulan purnama pada jarak 14 kilometer. Menggabungkan 400 satelit akan menghasilkan cahaya setinggi 10,000 bulan purnama (2.4% dari matahari) di area target, dengan cahaya yang terlihat hingga 80 kilometer jauhnya. Samantha Lawler menyebut ini "tidak kompatibel dengan astronomi", sementara pekerjaan sebelumnya dari Olivier Hainaut memprediksi peningkatan pencaharian langit global sebesar 300%.
CEO Ben Nowack membantah temuan tersebut, mengklaim bahwa langkah-langkah keamanan dan zona pengecualian mengatasi penyebaran tetapi tidak menyediakan data. Dark Sky International dan American Bird Conservancy mendorong FCC untuk membatalkan persetujuan, mengutip risiko bagi astronomi, aviasi, dan kehidupan liar. Reflect Orbital sendiri memperingatkan bahwa mengamati Eärendil-1 dengan teleskop lebih besar dari 12 inci dapat berbahaya bagi mata manusia.
Kesenjangan hukum tetap ada: FCC hanya mengatur frekuensi radio, bukan refleksi cahaya. Pengacara luar angkasa Michelle Hanlon mencatat manfaat potensial tetapi dasar hukum yang tidak jelas, menyarankan persetujuan lintas batas mungkin diperlukan. Perdebatan berlanjut sementara para astronom mengalihkan waktu penelitian ke perhitungan dampak.
Sumber: MIT Technology Review · Diringkas oleh HeadlinesBriefing