HeadlinesBriefing HeadlinesBriefing.com

Sejarah Panjang Protes dan Perlawanan di Prancis

New York Times Top Stories •
×

Pada Kamis, ribuan pengunjuk rasa, banyak di antaranya pelajar sekolah menengah atas, menyanyikan lagu kebangsaan di Place de la Bastille, tempat sekelompok massa pada 1789 menyerbu sebuah penjara kerajaan dan memicu Revolusi Prancis. Protes begitu mengakar dalam kehidupan politik Prancis sehingga jalanan dianggap sebagai cabang pemerintahan keempat, jalan terakhir ketika lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif tidak merespons, menurut David A. Bell, profesor sejarah di Universitas Princeton.

Dari pemberontakan jalanan sepanjang abad ke-19, termasuk pemberontakan singkat pada 1832 yang menginspirasi "Les Misérables", hingga protes Rompi Kuning yang dimulai pada 2018, tradisi ini terus berkembang. Julian Bourg, profesor sejarah di Boston College, mencatat bahwa Prancis memiliki budaya politik yang khas. "Berbeda dengan tradisi Anglo-Amerika, yang memandang negara sebagai entitas asing dan mengganggu yang mengancam kebebasan individu, di Prancis ada tradisi panjang bahwa negara mewujudkan rakyat," katanya, sehingga negara secara langsung bertanggung jawab kepada rakyat.

Yang terpenting, menurut Bell, protes sering terjadi karena orang merasa protes itu berhasil. Demonstrasi pada 1930-an menghasilkan perlindungan pekerja yang masih dijaga ketat, dan pemimpin Prancis menawarkan beberapa konsesi dalam protes terbaru, meskipun sebagian pendukung menganggapnya sebagai "tabir asap".

Beberapa aspek membedakan protes ini. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, pelajar sekolah menengah atas menjadi pihak pertama yang bergerak, dan media sosial memungkinkan gerakan menyebar seperti api di padang rumput, berbeda dengan pemberontakan masa lalu yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyebar dari Paris. Meski begitu, peristiwa 1968, yang dipimpin mahasiswa universitas dan mendorong jutaan pekerja untuk mogok, menawarkan gema yang bermanfaat. Bourg memperingatkan bahwa demonstrasi terkini lebih terfokus dan kurang kuat secara ideologis, tetapi ia mencatat bahwa setiap gerakan protes besar di Prancis membuka kemungkinan krisis politik yang lebih luas.

Sumber: New York Times Top Stories · Diringkas oleh HeadlinesBriefing