HeadlinesBriefing favicon HeadlinesBriefing.com

Gloria Steinem: Aborsi di Usia 22 dan Warisan Feminisme

New York Times Top Stories •
×

Pada tahun 1957, Gloria Steinem, yang damals berusia 22 tahun dan baru lulus dari Smith College, mencari aborsi ilegal di London setelah melarikan diri dari pertunangan dan kehamilan yang tidak diinginkan. Ia kemudian mengabdikan memoarnya tahun 2015 kepada dokter yang membantunya, mengingat permintaannya agar ia menjalani hidup sesuai ketentuannya sendiri. Steinem menjadi tokoh terkemuka dalam gerakan feminisme gelombang kedua, memperjuangkan kebebasan reproduktif, termasuk akses terhadap aborsi yang aman dan legal.

Upayanya berkontribusi pada keputusan landmark Roe v. Wade pada 1973, yang mengakui aborsi sebagai hak konstitusional di Amerika Serikat. Dalam bertahun-tahun pasca Roe, jutaan wanita memasuki pendidikan tinggi dan tenaga kerja, memperoleh otonomi yang lebih besar atas hidup mereka.

Namun, saat ini aborsi dilarang atau dibatasi sangat ketat di 17 negara bagian, mengakibatkan kematian yang bisa dicegah, komplikasi medis, dan peningkatan kemiskinan di antara wanita yang ditolak layanan. Studi menunjukkan wanita yang ditolak aborsi lebih cenderung tetap dalam hubungan yang menyalahi dan bergantung pada bantuan publik. Warisan Steinem baik dirayakan maupun dikontestasi seiring berlanjutnya perjuangan untuk hak reproduktif.