AI menciptakan 'premium manusia' untuk seni yang dibuat oleh manusia, tetapi tidak jelas apakah premium ini akan bertahan. Di sebuah gedung bank mantan di Falmouth, Cornwall, sebuah malam DJ baru-baru ini bernama Rave Machine menunjukkan pengalaman manusia yang fundamental — kerumunan, artis, dan musik terhubung untuk menciptakan sesuatu yang istimewa dan unik. Bahkan di dunia DJ, teknologi mengubah persamaan. Di tahun 1990, DJ bergantung pada vinyl, turntable, dan mixer. Sekarang, software dapat sinkronisasi beat secara otomatis, dan platform seperti Apple Music dan Spotify menawarkan AI-powered tune-mixing.
Pertanyaan utama yang diangkat oleh AI generatif adalah apakah kita peduli apakah seni dibuat oleh manusia atau mesin. Deezer melaporkan bahwa 44% lagu yang diunggah ke platformnya dihasilkan oleh AI, dan 97% pendengar tidak dapat membedakan musik AI dari lagu yang dibuat oleh manusia. Namun, lebih dari separuh yang disurvei mengatakan bahwa mereka masih lebih menyukai keterlibatan manusia.
Daniel Susskind, profesor ekonomi di King's College London, berargumen bahwa kita menghargai proses manusia di balik seni. Melihat Kapel Sistina, dia mengatakan, kita kagum tidak hanya pada keindahan, tetapi pada fakta bahwa pikiran manusia menciptakannya. Demikian pula, ketika Garry Kasparov kalah dari IBM's Deep Blue pada 1997, ketakutan bahwa minat catur akan menurun terbukti salah — catur sekarang lebih populer dari sebelumnya. Yang penting bukan hanya output, tetapi manusia di baliknya.
Sumber: Hacker News · Diringkas oleh HeadlinesBriefing