Para arkeolog telah menemukan arsip kerajaan berupa lempengan paku di kota Het kuno Samuha, yang kini bernama Sivas, di Turki tengah. Penggalian tahun ini menghasilkan 131 lempengan dan fragmen yang mencatat wabah demam, logistik militer, praktik keagamaan, dan kehidupan harian keluarga kerajaan 3.400 tahun lalu. Penggalian tahun lalu menemukan 53 lempengan, sehingga temuan musim ini lebih dari tiga kali lipat jumlah teksnya. Arsip ini kini menjadi kumpulan dokumen berbahasa Het terbesar dan paling komprehensif yang ditemukan pada abad ke-21. Catatan-catatan tersebut berasal dari masa pemerintahan Raja Tudhaliya II dan ditulis dalam bahasa Het dan Hurri.
Salah satu teks menggambarkan wabah demam yang menyerang putri bayi sang raja. Ia tidak pernah pulih, dan kesehatannya terus menurun hingga meninggal dunia. Lempengan itu mencatat upacara pemakaman yang dilakukan setelahnya. Kesehatan para pangeran dan putri, dari bayi hingga dewasa, menjadi fokus utama catatan, dan anak-anak pejabat tinggi juga mendapat perhatian serupa. Karena penyakit dipandang sebagai ungkapan kehendak ilahi, para pemimpin agama melakukan banyak ritual untuk menjaga kesehatan fisik anak-anak keluarga kerajaan dan para pejabat.
Dokumen penting lainnya adalah surat dari para jenderal Het di Anatolia barat yang memohon kepada raja untuk tambahan pasukan, kuda, dan kereta perang guna menghadapi pasukan musuh. Peringatan mereka sangat serius; mereka menyatakan bahwa tentara akan hancur tanpa kekuatan baru, dan mereka melepaskan tanggung jawab atas kegagalan apa pun jika bantuan tidak datang. Teks ini juga memastikan bahwa raja berada di Samuha ketika surat itu tiba, yang menegaskan pentingnya kota ini secara politik. Kota ini menjadi benteng kerajaan pada masa pergolakan, dan penerusnya, Suppiluliuma I, kemudian menjadikannya titik awal kampanye yang memperluas Kekaisaran Het.
Samuha juga merupakan pusat keagamaan yang penting. Dewi pelindungnya adalah Sauska, padanan Hurri dari Ishtar dan dewi paling penting dalam pantheon Hurri. Salah satu lempengan mencatat perjalanan para peramal burung yang menjelajahi berbagai wilayah, dengan mencatat rute, tempat singgah, dan burung-burung yang mereka amati dalam format seperti buku harian. Dokumen-dokumen ini memberikan informasi yang sebelumnya belum diketahui tentang cara pengamatan dan penafsiran tanda-tanda burung, serta memberi para peneliti bahan baru tentang agama, bahasa, dan budaya tulis Het.
Sumber: Hacker News · Diringkas oleh HeadlinesBriefing