Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama dalam perundingan dengan AS, mendesak Iran untuk menyiapkan strategi guna mengatasi sanksi yang ia anggap tidak adil. Pernyataannya muncul segera setelah Presiden Trump mengancam 'D-Day' ekonomi terhadap Republik Islam. Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai pemimpin parlemen Iran, menekankan bahwa Teheran harus mengembangkan rencana komprehensif untuk menetralkan dampak tekanan AS.
Ia menggambarkan sanksi sebagai ilegal dan tidak adil, menyerukan ketahanan domestik dan manuver diplomatik. Retorika yang meningkat menyoroti kerentanan negosiasi tidak langsung antara kedua pihak. Meskipun kedua belah pihak telah menyatakan keterbukaan untuk dialog, kampanye 'maximum pressure' pemerintah Trump terus mempersulit jalur menuju perjanjian nuklir baru.
Para analis menyarankan bahwa respons Iran kemungkinan akan menggabungkan adaptasi ekonomi dengan diplomasi regional, bertujuan memecah konsensus internasional tentang penegakan sanksi. Hasilnya dapat bergantung pada apakah Washington menawarkan pengurangan sanksi yang nyata sebagai imbalan atas konsesi nuklir.
Sumber: New York Times Top Stories · Diringkas oleh HeadlinesBriefing