Dorongan pemerintah Tiongkok untuk adopsi kecerdasan buatan telah menyebabkan ketergantungan berlebihan, yang memicu kekhawatiran tentang stabilitas sosial dan hubungan manusia. Media negara menyoroti kasus seperti seorang petani yang kehilangan tanamannya karena saran AI dan anak-anak yang lebih memilih chatbot daripada interaksi nyata. Survei tahun 2025 menemukan bahwa lebih dari 20% minoritas hanya ingin mengobrol dengan AI.
Pejabat telah merespons dengan regulasi tentang teman AI dan pedoman penggunaan, bertujuan untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan ketertiban sosial. Para ahli mencatat bahwa Partai Komunis sensitif terhadap AI yang dapat mengganggu pasar tenaga kerja dan ikatan pribadi, seperti yang terlihat dalam aplikasi yang menawarkan pasangan romantis virtual atau avatar keluarga. Orang tua seperti Vivian Lyu di Hangzhou melaporkan bahwa anak-anak mereka menjadi sangat tergantung pada asisten AI seperti Doubao dari ByteDance, yang mengubah perilaku dan mengurangi partisipasi di dunia nyata.
Xie Tong, seorang desainer grafis di Beijing, menggunakan AI di tempat kerja tetapi merasa terganggu dengan kehadiran AI di iklan dan keluaran kontraktor, menggambarkannya sebagai ketergantungan yang tidak terhindarkan. Pembatasan pemerintah pada Juli terhadap teman AI mencerminkan upaya untuk mengurangi risiko sambil mempertahankan pertumbuhan AI di tengah persaingan dengan AS.
Sumber: New York Times Top Stories · Diringkas oleh HeadlinesBriefing