Pencarian keabadian kognitif terus berjalan karena teknolog menjelajahi cara untuk melestarikan pikiran manusia di luar kematian. Dari membekukan otak hingga meng-upload kesadaran, para 'penyelamat pikiran' bertujuan untuk mempertahankan kontinuitas diri. Salah satu pendekatan yang kontroversial adalah transplantasi kepala, yang terinspirasi dari percobaan monyet pada tahun 1970-an dan didukung oleh dokter bedah Italia Sergio Canavero. Meski ada kekhawatiran etnis dan hambatan teknis, studi terkait fusi sumsum tulang belakang babi memberikan optimisme hati-hati. Kritikus tetap skeptik, menyebut prosedur tersebut tidak praktis secara medis dan penuh dengan isu etik. Konsep lain adalah 'mindclone'—avatar digital yang dibuat dari data pribadi, seperti yang diajukan oleh Martine Rothblatt. Meskip saat ini belum sadar, kemajuan AI mungkin akhirnya memungkinkan replikat perangkat lunak yang sadar. Ide-ide ini, meski berspekulasi, mendorong batas identitas dan kematian.
Pendekatan lain meliputi membekukan otak, peningkatan saraf, dan upload penuh pikiran. Setiap jalur menimbulkan pertanyaan filosofis tentang apa yang sebenarnya membentuk 'kamu'. Meskipun keabadian kognitif masih jauh dari tercapai, penelitian saat ini memberikan wawasan berharga tentang fungsi otak dan perbaikan saraf. Tujuan akhir bukan hanya panjang umur, tetapi melestarikan esensi kesadaran manusia.
Sumber: MIT Technology Review · Diringkas oleh HeadlinesBriefing