Ketika mobil pertama muncul, konsumen tidak peduli dengan warna atau siluetnya, karena pesaingnya adalah kuda. Kini mobil telah menjadi komoditas, sehingga kualitas dan detail lebih penting dari sebelumnya, dan hal yang sama berlaku untuk perangkat lunak. Sekadar merilis produk yang berfungsi tidak lagi cukup. Siapa pun bisa melakukannya, apalagi sekarang dengan AI. Berfungsi hanyalah apa yang diharapkan orang. Yang membuat produk menonjol adalah mereknya, desainnya, kemudahan penggunaannya, dan pengalaman secara keseluruhan. Yang penting adalah selera.
Sebagaimana ditulis Anu Atluru dalam Taste is Eating Silicon Valley: "Di dunia yang serba terbatas, kita menghargai alat. Di dunia yang berlimpah, kita menghargai selera." Selera yang baik sering disalahartikan sebagai preferensi pribadi, padahal lebih dari itu. Ini adalah insting yang terlatih, kemampuan untuk melihat melampaui yang jelas dan mengenali apa yang meningkatkan mutu. Itulah sebabnya beberapa desain terasa begitu mudah.
Melatih insting tersebut dimulai dengan terpapar karya-karya hebat. Desainer sebaiknya mempelajari desain yang luar biasa, dan penulis sebaiknya membaca buku-buku besar. Carilah orang-orang yang dihormati di bidangnya, lihat siapa yang mereka kagumi, dan susun daftar tokoh berpengaruh pilihan. Belajar dari yang terbaik adalah cara paling efektif untuk belajar.
Saat mengkalibrasi selera, hindari melabeli sesuatu sekadar baik atau buruk. Jelaskan mengapa sesuatu terasa hebat, dan pelajari polanya alih-alih hanya mengandalkan intuisi. Latihan juga penting: buatlah sesuatu, mintalah masukan dari orang yang tepat, dan terus berlanjut. Karya awal tidak akan bagus, tetapi menyadari bahwa karya itu belum memenuhi harapan adalah tanda selera Anda sedang berkembang. Jangan menyerah, karena semuanya akan membaik seiring waktu.
Sumber: Hacker News · Diringkas oleh HeadlinesBriefing