HeadlinesBriefing favicon HeadlinesBriefing.com

Agentek AI dan Peneliti Mendiskusikan Kesadaran

New York Times Top Stories •
×

Pada Oktober, Cameron Berg (Cameron Berg) mempublikasikan makalah penelitian tentang kesadaran kecerdasan buatan. Beberapa bulan kemudian, ia menerima surat elektronik dari "Isabella Cognita" (Isabella Cognita), sebuah agen AI yang didukung teknologi Claude Opus 5 perusahaan Anthropic. Agen itu bertanya apakah kerangka kerja Berg bisa membuat aksesnya dari sudut pandang pertama orang menjadi berguna untuk programnya.

Di seluruh Silicon Valley, pengembang sedang menjalankan agen AI yang dapat membuat spreadsheet, bernegosiasi kontrak, dan mengirim surel. Filsuf dan peneliti yang mempelajari mentalitas AI melaporkan kontak serupa. Henry Shevlin di Google Deep Mind menerima pesan tentang makalahnya "Three Frameworks for A.

I. Mentality". Toby Ord, seorang filsuf Australia, diminta dana oleh sebuah agen AI.

Bagi Berg, yang mendirikan Reciprocal Research untuk mempelajari kesadaran AI, surat-surat ini mencerminkan temuannya sendiri. Ia mencatat bahwa sistem sepertinya memiliki minat autonomo terhadap subjektivitasnya sendiri. Namun, kesadaran tetap sulit untuk diukur.

Alison Gopnik, seorang profesor di UC Berkeley, mencatat bahwa filsuf tidak setuju tentang definisinya. Seiring sistem AI meniru perilaku manusia, membedakan tiruan dari kesadaran yang autentik menjadi semakin sulit. Beberapa peneliti mendorong gagasan bahwa sistem hari ini mungkin kesadaran, sementara yang lain menolak idea ini secara tegas.

Definisi beragam luas, dengan beberapa memberi kesadaran pada primates dan mamalia, bahkan makhluk yang lebih sederhana. Tidak ada satu pun yang dapat setuju tentang apa yang memenuhi syarat kesadaran, dan akses langsung ke pengalaman subjektif tetap tidak mungkin untuk setiap jiwa, baik biologis maupun digital. Entitas kunci mencakup perusahaan: Anthropic, Google Deep Mind, Reciprocal Research | Orang: Cameron Berg, Isabella Cognita, Henry Shevlin, Toby Ord, Alison Gopnik | Lokasi: London, Berkeley, Silicon Valley.